Joosnews.com – Banyuwangi, Sebuah foto lawas beredar kembali dan menarik perhatian para pemerhati sejarah. Foto tersebut memperlihatkan Benteng Fort Utrecht, bangunan pertahanan peninggalan Belanda yang berdiri kokoh di kawasan Kepatihan, Banyuwangi, pada era 1924–1932. Bangunan ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Banyuwangi di masa kolonial Hindia Belanda, sekaligus menyimpan kisah misteri di bawah tanahnya.
Benteng Fort Utrecht diyakini merupakan pusat pertahanan militer Belanda di ujung timur Pulau Jawa. Lokasinya yang strategis di jantung kota lama Banyuwangi membuat benteng ini berperan penting sebagai markas administratif dan logistik militer kolonial. Kini, kawasan tersebut menjadi bagian dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0825 Banyuwangi.
Jejak Arsitektur Eropa di Tanah Osing
Bangunan benteng ini mengusung arsitektur khas Eropa abad ke-19, dengan dinding tebal, gerbang lengkung monumental, serta halaman luas berpagar kayu. Foto arsip yang dipublikasikan oleh komunitas Banjowangie Tempo Doeloe memperlihatkan beberapa serdadu Belanda berjaga di depan pintu masuk utama.
Menurut beberapa sejarawan, Benteng Fort Utrecht awalnya dibangun sebagai benteng pengamanan wilayah timur Jawa, terutama setelah Banyuwangi menjadi pelabuhan penting penghubung antara Jawa dan Bali. Dari sinilah Belanda memantau pergerakan masyarakat lokal dan mempertahankan kekuasaan militernya.
> “Benteng ini adalah simbol kekuasaan kolonial di masa lalu. Tapi di balik kemegahannya, tersimpan kisah perjuangan rakyat Banyuwangi melawan penjajahan,” ujar Drs. Hadi Pranoto, pemerhati sejarah Banyuwangi.
Terowongan Rahasia dan Jalur ke Inggrisan
Selain keindahan arsitekturnya, Fort Utrecht juga menyimpan misteri terowongan bawah tanah yang hingga kini masih menjadi bahan perbincangan. Warga meyakini, di bawah benteng terdapat jalur rahasia yang menghubungkan langsung ke kawasan Inggrisan, yang dulu menjadi pusat permukiman bangsa asing.
Beberapa cerita turun-temurun menyebut, terowongan ini digunakan sebagai jalur penyelamatan dan penyimpanan logistik pada masa perang. Meskipun sebagian aksesnya telah tertutup, jejak jalur bawah tanah tersebut masih dipercaya ada di sekitar kompleks Makodim 0825 Banyuwangi saat ini.
> “Dari sisi sejarah dan arkeologi, temuan seperti ini sangat penting. Terowongan kolonial di Banyuwangi bisa menjadi sumber penelitian sejarah dan potensi wisata edukatif,” jelas Cak Arif Wicaksono, pegiat budaya lokal.
Warisan Kolonial yang Menjadi Identitas Sejarah Banyuwangi
Fort Utrecht tidak sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah jejak transisi sejarah Banyuwangi dari masa kolonial menuju kemerdekaan. Kini, kawasan tersebut berdiri sebagai simbol pertahanan modern — markas Kodim 0825 Banyuwangi — yang mewarisi lokasi strategis yang sama.
Bangunan peninggalan Belanda itu menjadi pengingat akan masa kelam penjajahan, sekaligus bukti bahwa Banyuwangi memiliki peran penting dalam sejarah pertahanan wilayah timur Jawa.
