Joosnews.com – Banyuwangi, Di tengah derasnya arus modernisasi, Tari Seblang tetap menjadi napas spiritual dan kebanggaan budaya masyarakat Banyuwangi. Tari sakral yang hanya bisa ditarikan oleh perempuan terpilih ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga ritual adat mistis yang sarat makna dan simbolisasi kearifan lokal masyarakat Using di ujung timur Pulau Jawa.
Ritual Seblang diyakini sebagai upacara tolak bala dan permohonan keselamatan desa. Tarian ini menjadi bagian dari warisan tak benda yang diwariskan turun-temurun di dua desa utama: Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Dalam pelaksanaannya, Tari Seblang menghadirkan suasana mistis yang kuat. Sang penari — biasanya seorang gadis atau wanita paruh baya — akan menari dalam keadaan kesurupan (trance), dipercaya dirasuki oleh roh leluhur yang disebut “lelinggihan”. Iringan gamelan khas Banyuwangi berpadu dengan mantra dan tembang kuno menambah kekhidmatan suasana, menghadirkan sensasi spiritual yang membuat bulu kuduk meremang.
Prosesi Tari Seblang tidak hanya menonjolkan gerak dan musik, tetapi juga makna spiritual yang mendalam. Sebelum tarian dimulai, sesajen dan bunga-bungaan dipersembahkan untuk para leluhur.
Para tetua adat akan memimpin doa agar desa dijauhkan dari marabahaya, penyakit, dan kesialan.
Selama menari, penari Seblang akan berputar-putar dengan gerakan lemah gemulai, mengikuti irama gamelan “gending Seblang Lukinto”. Gerakannya dipercaya sebagai media penghubung antara dunia manusia dan dunia roh, sebagai simbol harmoni antara alam nyata dan alam gaib.
“Seblang bukan sekadar tarian, tapi doa yang bergerak. Ia adalah cara masyarakat Using menjaga keseimbangan antara yang tampak dan tak tampak,” ujar Budayawan Banyuwangi, Cak Sunarto, saat ditemui di sela-sela ritual Seblang di Desa Olehsari.
Meski berakar kuat pada nilai mistis, Tari Seblang kini juga menjadi ikon budaya Banyuwangi yang terus dilestarikan pemerintah daerah melalui festival budaya dan agenda tahunan Banyuwangi Ethno Carnival.
Namun, pelaksanaan Seblang sakral tetap dijaga agar tidak kehilangan ruh aslinya.
“Kami berupaya menjaga esensi ritualnya. Seblang bukan tontonan biasa, tapi bagian dari tradisi spiritual masyarakat Using yang harus dihormati,” tutur Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, dalam kesempatan terpisah.
Pelestarian Tari Seblang menjadi bukti nyata bahwa mistisisme dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman. Di balik aroma dupa dan alunan gending, tersimpan pesan harmoni: agar manusia tak pernah lupa pada leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
