Joosnews.com – Buleleng, Bali — Sore itu, Rabu, 24 September 2025, langit Kubutambahan seakan menjadi saksi lahirnya sebuah harapan baru. Di kantor PT BIBU Panji Sakti, peresmian desain Bandara Internasional Bali Utara berlangsung penuh khidmat namun juga meriah, dengan kehadiran “para bintang” dari berbagai bidang: militer, budaya, dan seni.
Di antara yang hadir adalah Marsekal (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2012–2015; Komisaris Jenderal (Purn.) I Made Mangku Pastika, yang juga salah satu Komisaris PT BIBU Panji Sakti; bintang film Cornelia “Sarah” Agatha; serta diva keroncong legendaris Sundari Soekotjo.
Cornelia “Sarah” Agatha tampil dengan penuh penghayatan membawakan puisi berjudul Sayap Cahaya di Bali Utara karya sastrawan Bali, I Made Matanai Utarayana. Suaranya yang lembut namun tegas menyalakan imajinasi hadirin tentang sayap-sayap harapan yang akan segera mengangkat Bali Utara ke panggung dunia.
Suasana semakin syahdu ketika Sundari Soekotjo menyanyikan lagu abadi Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Diiringi musik keroncong arahan Bambang Bogi Prasetyo, lantunan suara khas Sundari meresap ke ruang acara. Para tamu undangan terdiam sejenak, hanyut dalam alunan nada yang membangkitkan rasa cinta tanah air. Banyak mata yang berkaca-kaca, merasakan bahwa bandara ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol semangat nasionalisme dan pembangunan yang menyatukan.
Dalam sambutannya, Komjen (Pol) Purn. I Made Mangku Pastika menekankan arti penting pembangunan bandara ini bagi Bali Utara. “Buleleng telah lama menantikan momentum besar seperti ini. Bandara Internasional Bali Utara akan membuka jalan bagi keseimbangan pembangunan, menghadirkan manfaat tidak hanya bagi Bali, tetapi juga bagi Indonesia. Kehadiran desain yang berakar pada budaya lokal sekaligus modern ini adalah tonggak sejarah,” ujarnya.
Acara peresmian desain ini juga dihadiri oleh jajaran penting lainnya: Erwanto Sad Adiatmoko, CEO PT BIBU Panji Sakti; Hardyanthony Wiratama, CEO Alien DC sekaligus arsitek di balik desain bandara; para penglingsir yang tergabung dalam Paiketan Puri-Puri Se-Jebag Bali (P3SB) yang jumlahnya mencapai 13 penglingsir; para perbekel, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran mereka menjadi penanda dukungan luas bagi terwujudnya bandara yang sejak lama diimpikan.
Desain Bandara Internasional Bali Utara sendiri mengusung filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Konsep itu diintegrasikan oleh Alien DC dalam tata ruang, arsitektur, dan lanskap bandara. Desain modern berpadu dengan identitas Bali yang kental, menjadikannya bandara kelas dunia yang tetap menjejak pada akar budaya lokal.
Sore itu di Kubutambahan, bukan hanya desain sebuah bandara yang diluncurkan, melainkan juga sebuah visi masa depan: tentang bagaimana Bali Utara akan berdiri sejajar dengan kawasan lain, tentang bagaimana Indonesia membangun dengan hati, dan tentang bagaimana semangat kebersamaan dapat melahirkan karya monumental. Taburan bintang yang hadir, dari dunia militer, seni, hingga budaya, menjadikan peresmian ini bukan sekadar acara formal, melainkan sebuah perayaan harapan.
Bagi Presiden Prabowo Subianto, kehadiran Bandara Internasional Bali Utara merupakan perwujudan nyata dari visi pemerataan pembangunan. Proyek ini menjadi simbol kemandirian bangsa, memperlihatkan bahwa Indonesia mampu membangun infrastruktur kelas dunia dengan tetap menjaga identitas budaya. Lebih dari sekadar pintu gerbang udara, bandara ini adalah pesan kuat bahwa pembangunan tidak hanya untuk pusat, tetapi juga untuk daerah—dari Bali Utara, harapan Indonesia terbang semakin tinggi.
