Joosnews.com – Ada hal tak biasa pada gelaran TDBI yang dibuka pada Senin (22/7) kemarin. Yakni penampilan seluruh atlet yang akan meramaikan lintasan. Jika biasanya mereka menggunakan kostum balap sepeda lengkap, kini seluruh peserta dari dalam maupun luar negeri nampak mengenakan peci dan sarung, pakaian khas warga lokal. Hal ini pun menarik perhatian penonton dan seluruh hadirin.
Rupanya, hal yang mereka lakukan ini ada inisiasi dari Pemkab Banyuwangi dalam upaya mengenalkan dan melestarikan budaya lokal ke level yang lebih luas lagi
Tak hanya pembalap, official dan panitia juga mengenakan sarung dan peci. Sembari memakainya, para pebalap memperkenalkan diri dihadapan penonton sebelum memulai perlombaan. Hal ini pun tentu menjadi pusat perhatian warga yang antusias meminta foto bersama.
Wakil Ketua Umum PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI), Silmy Karim, mengapresiasi konsistensi Pemkab Banyuwangi dalam menyelenggarakan TDBI yang juga memadukan budaya lokal.
“Ajang ini menggabungkan budaya lokal dengan event internasional, menarik perhatian dunia dan mengangkat nama Banyuwangi di kancah global,” ujar Silmy.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Festiandani, menjelaskan bahwa pemakaian sarung dan peci adalah cara Banyuwangi menghargai dan melestarikan kebudayaan lokal. Dengan memperkenalkan budaya ini ke seluruh peserta yang datang dari berbagai daerah, Ipuk ingin budaya Banyuwangi makin dikenal luas.
“Kita wajib melestarikan adat istiadat agar tidak tergerus zaman, sekaligus mengenalkannya kepada warga asing,” kata Ipuk.
